KKN Posko 36 Bersihkan Masjid dan Gereja, Wujudkan Moderasi Beragama di Karangtengah
SEMARANG — Mahasiswa KKN MIT Ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 36 menggelar Gerakan Cinta Rumah Ibadah di Desa Karangtengah, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Kegiatan yang mengusung tema “Bersih Ibadah, Kokoh Ukhuwah” tersebut dilaksanakan pada Jumat (21/8/2026) dan Jumat (28/8/2026) sebagai bentuk pengabdian sekaligus praktik nyata moderasi beragama di tengah masyarakat.
Gerakan tersebut diwujudkan melalui kegiatan kebersihan di dua rumah ibadah berbeda, yakni Masjid Nurul Alam Kadimulyo dan Gereja GPIB Tamansari Kalimangli. Mahasiswa KKN bersama pengurus rumah ibadah dan warga bergotong royong membersihkan serta merawat lingkungan tempat ibadah tanpa membedakan latar belakang agama.
Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB. Di Masjid Nurul Alam Kadimulyo, mahasiswa bersama takmir dan warga membersihkan bagian dalam dan luar masjid, termasuk menyapu lantai, membersihkan karpet, serta menyingkirkan sampah dan rumput liar di lingkungan sekitar.
Sementara itu, di Gereja GPIB Tamansari Kalimangli, mahasiswa bersama pengurus dan jemaat membersihkan bangku, lantai, kaca jendela, serta berbagai perlengkapan gereja. Area taman dan tempat parkir turut dirapikan. Mahasiswa juga melakukan pengecatan pada bagian dinding luar gereja untuk memperbaiki tampilan lingkungan tempat ibadah.
Koordinator Pendidikan dan Keagamaan KKN MIT Posko 36, Muhammad Adam Nurobbi, mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak sekadar sebagai aksi kebersihan, tetapi juga sebagai bentuk penerapan nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
“Kami memilih dua tempat ibadah yang berbeda sebagai simbol bahwa mahasiswa KKN hadir untuk semua lapisan masyarakat, tanpa membedakan suku, agama, maupun golongan. Gerakan ini menjadi salah satu bentuk nyata moderasi beragama yang kami bawa selama menjalankan pengabdian di Desa Karangtengah,” ujarnya.
Keterlibatan mahasiswa mendapat apresiasi dari pengurus dan masyarakat di sekitar rumah ibadah. Ketua Takmir Masjid Kadimulyo, Abdul Hadi, mengapresiasi bantuan mahasiswa dalam menjaga kebersihan masjid, terutama menjelang pelaksanaan salat Jumat.
“Terima kasih kepada mahasiswa KKN yang telah membantu kebersihan masjid, utamanya menjelang ibadah salat Jumat,” ungkap Abdul Hadi.
Menurutnya, kebersihan lingkungan masjid memberikan kenyamanan bagi jamaah dalam melaksanakan ibadah.
“Manfaatnya masjid menjadi bersih sehingga kegiatan salat Jumat menjadi lebih nyaman. Dengan kenyamanan dalam beribadah, diharapkan jamaah dapat semakin khusyuk dalam melaksanakan salat,” lanjutnya.
Apresiasi serupa disampaikan Sri Mulyono, salah seorang jemaat yang mendampingi kegiatan di gereja. Ia menilai kehadiran mahasiswa KKN memberikan bantuan nyata dalam pekerjaan yang selama ini dilakukan secara rutin oleh komunitas gereja.
“Senang sekali, jika dikerjakan sendiri lumayan capek. Biasanya yang bertugas bersih-bersih di sini cuma pada hari Rabu sama Jumat, dan itu pun hanya membersihkan lantai, kursi, dan meja, tidak keseluruhan,” ujarnya.
Menurut Sri Mulyono, mahasiswa tidak hanya membersihkan bagian dalam gereja, tetapi juga menangani kaca jendela, taman, hingga pengecatan dinding luar. Hal tersebut dinilainya sebagai bentuk perhatian yang memberikan manfaat bagi komunitas gereja.
Ia juga menilai kegiatan lintas iman tersebut memperlihatkan bahwa toleransi di Desa Karangtengah tidak berhenti pada sikap saling menghormati, tetapi dapat diwujudkan melalui kerja bersama.
“Saya sangat mengapresiasi, karena di tempat ini tingkat toleransi antarwarga memang sudah sangat tinggi. Tapi kegiatan seperti ini membuat toleransi itu tidak hanya sekadar omongan, tapi terlihat dalam kerja nyata,” tambahnya.
Sri Mulyono berharap kegiatan semacam itu dapat terus dilakukan dan memberikan pengalaman positif bagi generasi muda dalam memahami keberagaman.
“Harapannya, tingkat toleransi semakin tinggi. Kegiatan seperti ini membuat kerukunan antarwarga semakin erat, dan yang terpenting, membuat perspektif atau sudut pandang anak-anak muda di sini semakin toleran terhadap perbedaan,” pungkasnya.
Moderasi Beragama dalam Aksi Nyata
Gerakan Cinta Rumah Ibadah menjadi bagian dari program kerja sosial keagamaan KKN MIT Ke-22 Posko 36. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berupaya menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kebersihan dan kenyamanan rumah ibadah merupakan nilai sosial yang dapat dilakukan bersama di tengah keberagaman masyarakat.
Kegiatan di Masjid Nurul Alam Kadimulyo dan Gereja GPIB Tamansari Kalimangli juga mempertemukan mahasiswa dengan takmir, pengurus gereja, jemaat, dan warga dalam aktivitas gotong royong. Interaksi tersebut menjadi ruang untuk membangun komunikasi, saling mengenal, dan memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Bagi mahasiswa KKN, moderasi beragama tidak hanya disampaikan melalui diskusi atau edukasi, tetapi juga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
KKN MIT Ke-22 Posko 36 berharap semangat gotong royong dan toleransi yang terbangun melalui Gerakan Cinta Rumah Ibadah dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat Desa Karangtengah. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk merawat kerukunan serta menghargai perbedaan sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
KKN Posko 36 Bersihkan Masjid dan Gereja, Wujudkan Moderasi Beragama di Karangtengah
JUMAT, 28 AGUSTUS 2026
SEMARANG — Mahasiswa KKN MIT Ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 36 menggelar Gerakan Cinta Rumah Ibadah di Desa Karangtengah, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Kegiatan yang mengusung tema “Bersih Ibadah, Kokoh Ukhuwah” tersebut dilaksanakan pada Jumat (21/8/2026) dan Jumat (28/8/2026) sebagai bentuk pengabdian sekaligus praktik nyata moderasi beragama di tengah masyarakat.
Gerakan tersebut diwujudkan melalui kegiatan kebersihan di dua rumah ibadah berbeda, yakni Masjid Nurul Alam Kadimulyo dan Gereja GPIB Tamansari Kalimangli. Mahasiswa KKN bersama pengurus rumah ibadah dan warga bergotong royong membersihkan serta merawat lingkungan tempat ibadah tanpa membedakan latar belakang agama.
Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB. Di Masjid Nurul Alam Kadimulyo, mahasiswa bersama takmir dan warga membersihkan bagian dalam dan luar masjid, termasuk menyapu lantai, membersihkan karpet, serta menyingkirkan sampah dan rumput liar di lingkungan sekitar.
Sementara itu, di Gereja GPIB Tamansari Kalimangli, mahasiswa bersama pengurus dan jemaat membersihkan bangku, lantai, kaca jendela, serta berbagai perlengkapan gereja. Area taman dan tempat parkir turut dirapikan. Mahasiswa juga melakukan pengecatan pada bagian dinding luar gereja untuk memperbaiki tampilan lingkungan tempat ibadah.
Koordinator Pendidikan dan Keagamaan KKN MIT Posko 36, Muhammad Adam Nurobbi, mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak sekadar sebagai aksi kebersihan, tetapi juga sebagai bentuk penerapan nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
“Kami memilih dua tempat ibadah yang berbeda sebagai simbol bahwa mahasiswa KKN hadir untuk semua lapisan masyarakat, tanpa membedakan suku, agama, maupun golongan. Gerakan ini menjadi salah satu bentuk nyata moderasi beragama yang kami bawa selama menjalankan pengabdian di Desa Karangtengah,” ujarnya.
Disambut Positif Takmir dan Jemaat
Keterlibatan mahasiswa mendapat apresiasi dari pengurus dan masyarakat di sekitar rumah ibadah. Ketua Takmir Masjid Kadimulyo, Abdul Hadi, mengapresiasi bantuan mahasiswa dalam menjaga kebersihan masjid, terutama menjelang pelaksanaan salat Jumat.
“Terima kasih kepada mahasiswa KKN yang telah membantu kebersihan masjid, utamanya menjelang ibadah salat Jumat,” ungkap Abdul Hadi.
Menurutnya, kebersihan lingkungan masjid memberikan kenyamanan bagi jamaah dalam melaksanakan ibadah.
“Manfaatnya masjid menjadi bersih sehingga kegiatan salat Jumat menjadi lebih nyaman. Dengan kenyamanan dalam beribadah, diharapkan jamaah dapat semakin khusyuk dalam melaksanakan salat,” lanjutnya.
Apresiasi serupa disampaikan Sri Mulyono, salah seorang jemaat yang mendampingi kegiatan di gereja. Ia menilai kehadiran mahasiswa KKN memberikan bantuan nyata dalam pekerjaan yang selama ini dilakukan secara rutin oleh komunitas gereja.
“Senang sekali, jika dikerjakan sendiri lumayan capek. Biasanya yang bertugas bersih-bersih di sini cuma pada hari Rabu sama Jumat, dan itu pun hanya membersihkan lantai, kursi, dan meja, tidak keseluruhan,” ujarnya.
Menurut Sri Mulyono, mahasiswa tidak hanya membersihkan bagian dalam gereja, tetapi juga menangani kaca jendela, taman, hingga pengecatan dinding luar. Hal tersebut dinilainya sebagai bentuk perhatian yang memberikan manfaat bagi komunitas gereja.
Ia juga menilai kegiatan lintas iman tersebut memperlihatkan bahwa toleransi di Desa Karangtengah tidak berhenti pada sikap saling menghormati, tetapi dapat diwujudkan melalui kerja bersama.
“Saya sangat mengapresiasi, karena di tempat ini tingkat toleransi antarwarga memang sudah sangat tinggi. Tapi kegiatan seperti ini membuat toleransi itu tidak hanya sekadar omongan, tapi terlihat dalam kerja nyata,” tambahnya.
Sri Mulyono berharap kegiatan semacam itu dapat terus dilakukan dan memberikan pengalaman positif bagi generasi muda dalam memahami keberagaman.
“Harapannya, tingkat toleransi semakin tinggi. Kegiatan seperti ini membuat kerukunan antarwarga semakin erat, dan yang terpenting, membuat perspektif atau sudut pandang anak-anak muda di sini semakin toleran terhadap perbedaan,” pungkasnya.
Moderasi Beragama dalam Aksi Nyata
Gerakan Cinta Rumah Ibadah menjadi bagian dari program kerja sosial keagamaan KKN MIT Ke-22 Posko 36. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berupaya menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kebersihan dan kenyamanan rumah ibadah merupakan nilai sosial yang dapat dilakukan bersama di tengah keberagaman masyarakat.
Kegiatan di Masjid Nurul Alam Kadimulyo dan Gereja GPIB Tamansari Kalimangli juga mempertemukan mahasiswa dengan takmir, pengurus gereja, jemaat, dan warga dalam aktivitas gotong royong. Interaksi tersebut menjadi ruang untuk membangun komunikasi, saling mengenal, dan memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Bagi mahasiswa KKN, moderasi beragama tidak hanya disampaikan melalui diskusi atau edukasi, tetapi juga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
KKN MIT Ke-22 Posko 36 berharap semangat gotong royong dan toleransi yang terbangun melalui Gerakan Cinta Rumah Ibadah dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat Desa Karangtengah. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk merawat kerukunan serta menghargai perbedaan sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat.
Penulis: Adam Murobbi
Editor: Arya Krida
Sumber: Tim KKN MIT Ke-22 Posko 36 UIN Walisongo Semarang