Prof. KH. Zainal mengajak umat Islam untuk bersikap bijak, mengedepankan Tasamuh (toleransi), serta menghormati perbedaan pendapat yang ada.
Menurutnya, perbedaan dalam penentuan awal Ramadan merupakan hal yang wajar dan telah lama menjadi bagian dari dinamika keilmuan Islam, baik metode rukyatul hilal maupun hisab memiliki dasar dan argumentasi masing-masing yang dapat di pertanggung jawabkan secara syar’i.
“Perbedaan pandangan dan metode sering terjadi di kalangan ulama maupun pemerintah. Itu adalah bagian dari ijtihad. Karena itu, umat Islam harus dewasa dalam menanggapi setiap penetapan yang ada,” kata Prof. KH. Zainal Abidin, Selasa (17/2 2026) malam.
Ia menegaskan perbedaan tidak perlu dijadikan batu sandungan dalam membangun persaudaraan. Perbedaan pandangan dan pemikiran, katanya, justru dapat menjadi kekayaan intelektual dan keilmuan Islam serta menjadi instrumen pemersatu apabila disikapi dengan saling menghormati dan menghargai.
“Kita tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan. Perbedaan harus menjadi kekuatan dalam kebersamaan. Intinya adalah tasamuh dan saling menghargai,” tegasnya.
Ia juga mengimbau umat Islam di mana pun berada agar tidak mudah terprovokasi oleh isu dan narasi yang dapat memperuncing perbedaan, terutama di ruang publik dan media sosial.
Prof. KH. Zainal menjelaskan bahwa momentum bulan Ramadan ini merupakan sarana bagi umat Islam untuk memperkuat persaudaraan, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan kualitas ibadah.
“Ke depan, mari kita kedepankan sikap tasamuh dan saling menghargai. Dengan begitu, kita dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang, khusyuk, dan penuh keberkahan,” tutupnya.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
MUI Palu Ajak Umat Kedepankan Tasamuh Sikapi Penetapan Awal Ramadan 1447 H
KAMIS, 19 FEBRUARI 2026
Palu, DNID.co.id - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof. KH. Zainal Abidin, menyampaikan pandangannya terkait penetapan awal Ramadan 1447 Hijriyah/2026 Masehi.
Prof. KH. Zainal mengajak umat Islam untuk bersikap bijak, mengedepankan tasamuh (toleransi), serta menghormati perbedaan pendapat yang ada.
Menurutnya, perbedaan dalam penentuan awal Ramadan merupakan hal yang wajar dan telah lama menjadi bagian dari dinamika keilmuan Islam, baik metode rukyatul hilal maupun hisab memiliki dasar dan argumentasi masing-masing yang dapat di pertanggung jawabkan secara syar’i.
"Perbedaan pandangan dan metode sering terjadi di kalangan ulama maupun pemerintah. Itu adalah bagian dari ijtihad. Karena itu, umat Islam harus dewasa dalam menanggapi setiap penetapan yang ada," kata Prof. KH. Zainal Abidin, Selasa (17/2 2026) malam.
Ia menegaskan perbedaan tidak perlu dijadikan batu sandungan dalam membangun persaudaraan. Perbedaan pandangan dan pemikiran, katanya, justru dapat menjadi kekayaan intelektual dan keilmuan Islam serta menjadi instrumen pemersatu apabila disikapi dengan saling menghormati dan menghargai.
"Kita tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan. Perbedaan harus menjadi kekuatan dalam kebersamaan. Intinya adalah tasamuh dan saling menghargai," tegasnya.
Ia juga mengimbau umat Islam di mana pun berada agar tidak mudah terprovokasi oleh isu dan narasi yang dapat memperuncing perbedaan, terutama di ruang publik dan media sosial.
Prof. KH. Zainal menjelaskan bahwa momentum bulan Ramadan ini merupakan sarana bagi umat Islam untuk memperkuat persaudaraan, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan kualitas ibadah.
"Ke depan, mari kita kedepankan sikap tasamuh dan saling menghargai. Dengan begitu, kita dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang, khusyuk, dan penuh keberkahan," tutupnya.