Kemendikdasmen Ingatkan Adiksi Gadget hingga Gim Daring Tingkatkan Risiko Anak Terpapar Ekstremisme-Radikalisme
Jakarta,DNID.co.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengingatkan adiksi terhadap gadget hingga gim daring meningkatkan risiko anak terpapar paham ekstremisme maupun radikalisme sehingga perlunya penguatan pendidikan karakter di sekolah.
Kepala Pusat Penguatan Karakter (Kapuspeka) Kemendikdasmen Rusprita Putri Utami mengatakan pendidikan di era digital membawa sejumlah tantangan kepada peserta didik, yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental mereka.
“Tantangan pendidikan hari ini sangat berkaitan dengan era digital. Isu yang menurut kami sangat besar adalah bagaimana anak-anak mengalami adiksi gadget. Dan ini sangat mempengaruhi kesehatan fisik, maupun kesehatan mental psikis anak,”jelas Kapuspeka, Jumat (22/5/2026).
Ia menyebutkan, berdasarkan data Densus 88, jumlah anak yang terpapar paham radikalisme dan ekstremisme meningkat signifikan melalui gim daring.
Anak-anak yang adiksi terhadap gim daring ini, kata Kapuspeka, memiliki kecenderungan menjadi pribadi yang pasif, bahkan menjadi antisosial ketika berhadapan dengan dunia nyata, padahal mereka sangat aktif ketika berada di dunia maya.
“Data dari Densus 88, ternyata jumlah anak yang terpapar isu radikalisme, paham-paham ekstremisme ini juga signifikan meningkat melalui game online,” ujarnya.
Di samping itu, Kapuspeka menambahkan anak-anak dengan adiksi terhadap gim daring juga berpotensi mengalami masalah kesehatan mata akibat dari menatap layar gawai terlalu lama tanpa jeda.
Kondisi yang demikian membuat pihaknya menguatkan pendidikan karakter anak di lingkungan sekolah melalui gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH). “7 kebiasaan ini terdengar sangat simpel, tapi sebenarnya ini sangat powerful untuk membentuk karakter anak-anak, mulai dari kemandirian, mencintai diri sendiri, memahami bagaimana merawat dirinya, memahami bagaimana menghormati orang lain, memahami bagaimana bekerjasama dengan orang lain,” terang Kapuspeka.
Pihaknya berharap implementasi gerakan 7 KAIH secara masif di tiap satuan pendidikan dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas menguasai kemajuan teknologi, namun juga bijak menggunakannya untuk kebaikan bersama.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Kemendikdasmen Ingatkan Adiksi Gadget hingga Gim Daring Tingkatkan Risiko Anak Terpapar Ekstremisme-Radikalisme
JUMAT, 22 MEI 2026
Jakarta,DNID.co.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengingatkan adiksi terhadap gadget hingga gim daring meningkatkan risiko anak terpapar paham ekstremisme maupun radikalisme sehingga perlunya penguatan pendidikan karakter di sekolah.
Kepala Pusat Penguatan Karakter (Kapuspeka) Kemendikdasmen Rusprita Putri Utami mengatakan pendidikan di era digital membawa sejumlah tantangan kepada peserta didik, yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental mereka.
“Tantangan pendidikan hari ini sangat berkaitan dengan era digital. Isu yang menurut kami sangat besar adalah bagaimana anak-anak mengalami adiksi gadget. Dan ini sangat mempengaruhi kesehatan fisik, maupun kesehatan mental psikis anak,”jelas Kapuspeka, Jumat (22/5/2026).
Ia menyebutkan, berdasarkan data Densus 88, jumlah anak yang terpapar paham radikalisme dan ekstremisme meningkat signifikan melalui gim daring.
Anak-anak yang adiksi terhadap gim daring ini, kata Kapuspeka, memiliki kecenderungan menjadi pribadi yang pasif, bahkan menjadi antisosial ketika berhadapan dengan dunia nyata, padahal mereka sangat aktif ketika berada di dunia maya.
"Data dari Densus 88, ternyata jumlah anak yang terpapar isu radikalisme, paham-paham ekstremisme ini juga signifikan meningkat melalui game online," ujarnya.
Di samping itu, Kapuspeka menambahkan anak-anak dengan adiksi terhadap gim daring juga berpotensi mengalami masalah kesehatan mata akibat dari menatap layar gawai terlalu lama tanpa jeda.
Kondisi yang demikian membuat pihaknya menguatkan pendidikan karakter anak di lingkungan sekolah melalui gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH). “7 kebiasaan ini terdengar sangat simpel, tapi sebenarnya ini sangat powerful untuk membentuk karakter anak-anak, mulai dari kemandirian, mencintai diri sendiri, memahami bagaimana merawat dirinya, memahami bagaimana menghormati orang lain, memahami bagaimana bekerjasama dengan orang lain,” terang Kapuspeka.
Pihaknya berharap implementasi gerakan 7 KAIH secara masif di tiap satuan pendidikan dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas menguasai kemajuan teknologi, namun juga bijak menggunakannya untuk kebaikan bersama.