Pupuk Subsidi Diduga Dipaketkan dengan Pestisida, Aktivis Bone Siap Bongkar di DPRD

 

Dugaan pelanggaran penyaluran pupuk subsidi mencuat, kios diminta dievaluasi karena dianggap merugikan petani

 

Bone, DNID.co.id — Dugaan praktik penyaluran pupuk subsidi yang tidak sesuai aturan kembali menjadi sorotan di Kabupaten Bone.

Keluhan petani terkait harga pupuk yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) hingga dugaan pemaketan pupuk subsidi dengan pupuk non-subsidi, pestisida, dan produk pertanian lainnya disebut masih terus terjadi.

Aktivis sekaligus pemerhati kebijakan pertanian, Alfian T Anugrah, menilai praktik tersebut sudah berlangsung cukup lama dan merugikan petani karena mereka dipaksa membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya untuk mendapatkan pupuk subsidi yang menjadi hak mereka.

“Praktik seperti ini terus dikeluhkan. Kami menduga ada pembiaran, bahkan kemungkinan restu dari distributor terhadap pengecer yang melakukan pelanggaran,” kata Alfian, Sabtu (30/5/2026).

Menurutnya, dugaan praktik itu terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Cina dan Kecamatan Amali. Modus yang sering dikeluhkan petani yakni pupuk subsidi hanya bisa ditebus apabila petani ikut membeli pupuk non-subsidi, pestisida, atau produk pertanian lainnya.

Padahal, kata dia, dalam aturan penyaluran pupuk subsidi tidak ada ketentuan yang mewajibkan petani membeli produk lain sebagai syarat untuk memperoleh pupuk subsidi.

“Yang disubsidi negara itu pupuknya. Jadi petani tidak boleh dipaksa membeli barang lain untuk bisa mendapatkan pupuk subsidi. Kalau ada syarat harus ambil pestisida atau pupuk non-subsidi, itu jelas memberatkan petani,” ujarnya.

Alfian juga menyoroti masih adanya dugaan penjualan pupuk subsidi di atas HET. Kondisi tersebut semakin membebani petani yang saat ini tengah menghadapi tingginya biaya produksi pertanian.

“Mulai dari harga yang diduga melebihi HET sampai pemaketan pupuk subsidi dengan barang lain. Ini harus menjadi perhatian serius karena yang dirugikan langsung adalah petani,” katanya.

Dia mendesak PT Pupuk Indonesia segera melakukan evaluasi terhadap kios pengecer maupun distributor yang diduga membiarkan praktik tersebut terus berlangsung.

“Saya berharap PT Pupuk Indonesia segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kios dan distributor. Jangan sampai hak petani terus dirugikan,” tegasnya.

Seoanjutnya Alfian mengingatkan bahwa praktik pemaketan pupuk subsidi dengan barang lain bukan persoalan sepele. Selain berpotensi melanggar ketentuan penyaluran pupuk bersubsidi, pelaku juga dapat menghadapi sanksi berat.

“Perlu diketahui bersama, praktik pemaketan pupuk subsidi dengan barang lain ada sanksinya. Salah satunya pencabutan izin operasional bagi kios atau pengecer yang terbukti melanggar,” ungkapnya.

Selain sanksi administratif, ia menyebut pelanggaran dalam distribusi barang bersubsidi juga dapat berujung pada proses hukum apabila ditemukan unsur pidana sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Kalau ada unsur pidana dalam penyalahgunaan distribusi barang subsidi, ancaman hukumnya bisa sampai lima tahun penjara sesuai aturan yang berlaku. Karena itu persoalan ini tidak bisa dianggap biasa,” katanya.

Lebih lanjut, Alfian memastikan pihaknya akan membawa persoalan tersebut ke DPRD Bone agar mendapat perhatian serius dari seluruh pihak terkait.

“Insya Allah Senin kami akan bersurat ke DPRD Bone untuk meminta audiensi atau Rapat Dengar Pendapat (RDP). Kami ingin persoalan ini dibahas secara terbuka agar ada kejelasan dan solusi bagi petani,” ujarnya.

Ia berharap DPRD Bone, Dinas Pertanian, KP3, distributor, dan PT Pupuk Indonesia dapat duduk bersama membahas berbagai keluhan petani yang selama ini muncul di lapangan.

“Petani berhak mendapatkan pupuk subsidi sesuai alokasi, sesuai HET, dan tanpa dipaksa membeli produk lain. Itu yang harus dijaga bersama,” tutup Alfian.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Minggu, 31 Mei 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Penulis: Ricky

Editor: Kingzhie

Penanggung Jawab: Ir Herman Maddaung

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

KBPBI Seret Nama Presiden Direktur Epson di Kasus Staycation
4 Ultimatum FSPGI untuk Epson, Ancam Boikot Produk
Cegah Sejak Dini, Sosialisasi Bahaya Narkoba Sasar Pelajar SMP Wujudkan Generasi Bersih Narkoba
Tersembunyi di Kotak Rokok dan Kardus Lampu, Begini Cara Polisi Bongkar Kasus Sabu di Bangka Barat
Pengacara dan Legislator Makassar Bahas Usulan Kontes Ayam Lotteng Bangkok Tanpa Judi Sebagai Warisan Budaya
Bupati Gowa Dorong Kampung Zakat Bontomanai Dikembangkan Jadi Program Unggulan
Menko Pangan Zulkifli Hasan Dipastikan Buka Rakernas III PJS di Batam
Polisi Hadir, Ancaman Lalu Lintas Pelajar Diantisipasi
Berita ini 107 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 01:33 WITA

KBPBI Seret Nama Presiden Direktur Epson di Kasus Staycation

Selasa, 3 November 2026 - 00:52 WITA

4 Ultimatum FSPGI untuk Epson, Ancam Boikot Produk

Senin, 2 November 2026 - 18:40 WITA

Tersembunyi di Kotak Rokok dan Kardus Lampu, Begini Cara Polisi Bongkar Kasus Sabu di Bangka Barat

Senin, 2 November 2026 - 18:25 WITA

Pengacara dan Legislator Makassar Bahas Usulan Kontes Ayam Lotteng Bangkok Tanpa Judi Sebagai Warisan Budaya

Senin, 2 November 2026 - 14:29 WITA

Bupati Gowa Dorong Kampung Zakat Bontomanai Dikembangkan Jadi Program Unggulan

Senin, 2 November 2026 - 14:11 WITA

Menko Pangan Zulkifli Hasan Dipastikan Buka Rakernas III PJS di Batam

Senin, 2 November 2026 - 11:16 WITA

Polisi Hadir, Ancaman Lalu Lintas Pelajar Diantisipasi

Senin, 2 November 2026 - 10:00 WITA

Cegah Penyalahgunaan Narkotika, Polda Sulsel Tegaskan Larangan Penggunaan Vape bagi Seluruh Personel

Berita Terbaru

Serba-Serbi

KBPBI Seret Nama Presiden Direktur Epson di Kasus Staycation

Selasa, 3 Nov 2026 - 01:33 WITA

Serba-Serbi

4 Ultimatum FSPGI untuk Epson, Ancam Boikot Produk

Selasa, 3 Nov 2026 - 00:52 WITA