Mengapa Hutan Ammatoa Kajang Tetap Lestari? Jawabannya Ada pada Pasang Ri Kajang

Penelitian mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Bone mengungkap masyarakat adat di Desa Tana Toa masih memegang teguh Pasang ri Kajang, menjaga hutan adat, dan melestarikan budaya leluhur di tengah perkembangan zaman.

Bulukumba, DNID.co.id – Masyarakat Adat Ammatoa Kajang di Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, hingga kini tetap mempertahankan budaya leluhur dan menjaga kelestarian hutan adat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun masih menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Fakta tersebut terungkap dalam penelitian lapangan yang dilakukan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Bone pada 4–5 Juli 2026 di Kawasan Adat Ammatoa Kajang.

 

Pemandu Kawasan Adat Ammatoa Kajang memberikan penjelasan kepada mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Bone mengenai Pasang ri Kajang, sejarah, serta kearifan lokal masyarakat adat dalam menjaga budaya dan kelestarian hutan.

Selama penelitian, mahasiswa mendapat pendampingan dari Yusuf, pemandu Kawasan Adat Ammatoa Kajang.

Yusuf menjelaskan sejarah kawasan adat, makna Pasang ri Kajang, sistem pemerintahan adat, hingga pola kehidupan masyarakat yang masih menjaga tradisi leluhur.

Yusuf menjelaskan, Pasang ri Kajang merupakan kumpulan pesan, petuah, dan aturan adat yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam.

Sehingga nilai-nilai tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi dan tetap dipatuhi oleh masyarakat adat hingga sekarang.

Menurutnya, Ammatoa sebagai pemimpin adat memiliki peran sentral dalam menjaga kelangsungan budaya, adat istiadat, dan kelestarian hutan.

Masyarakat memandang hutan sebagai titipan Tuhan yang wajib dijaga sehingga setiap tindakan yang merusak hutan atau melanggar aturan adat dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Bone mengunjungi salah satu rumah adat di Kawasan Adat Ammatoa Kajang untuk mempelajari langsung arsitektur tradisional dan nilai-nilai budaya yang masih dijaga masyarakat adat.

 

Identitas masyarakat Kajang juga terlihat dari pakaian adat serba hitam yang mereka kenakan. Warna hitam melambangkan kesederhanaan, persamaan derajat, dan kerendahan hati.

Khusus masyarakat Kajang Dalam, mereka tetap berjalan tanpa menggunakan alas kaki sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.

Rumah adat masyarakat Kajang berbentuk rumah panggung dan seluruhnya menghadap ke arah barat atau kiblat.

Mayoritas warga bekerja sebagai petani dengan memanfaatkan lahan dan hasil hutan secara bijaksana tanpa merusak keseimbangan alam.

Dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, masyarakat adat Kajang berpegang pada tiga landasan, yakni hukum adat, hukum negara, dan hukum agama.

Nilai kejujuran, gotong royong, serta tanggung jawab terus dijaga sebagai bagian dari kehidupan sosial mereka.

Selain itu, masyarakat juga rutin melaksanakan berbagai ritual adat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada para leluhur.

Tradisi tersebut menjadi sarana mempererat persaudaraan dan menjaga persatuan di lingkungan masyarakat adat.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Adat Ammatoa Kajang tetap mampu mempertahankan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Kepatuhan terhadap Pasang ri Kajang, komitmen melestarikan hutan adat, dan upaya menjaga budaya menjadi bukti bahwa warisan leluhur masih hidup serta terus dijaga oleh generasi penerus.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Kamis, 9 Juli 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Penulis: Ricky

Editor: Kingzhie

Sumber Berita: Kelompok 3 Diksi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Bone

Penanggung Jawab: Ir Herman Maddaung

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Masuk Tahap Verifikasi Lapangan PUG, Darmawangsyah Muin Harap Gowa kembali Raih APE 2026
KBPBI Seret Nama Presiden Direktur Epson di Kasus Staycation
4 Ultimatum FSPGI untuk Epson, Ancam Boikot Produk
Cegah Sejak Dini, Sosialisasi Bahaya Narkoba Sasar Pelajar SMP Wujudkan Generasi Bersih Narkoba
Tersembunyi di Kotak Rokok dan Kardus Lampu, Begini Cara Polisi Bongkar Kasus Sabu di Bangka Barat
Pengacara dan Legislator Makassar Bahas Usulan Kontes Ayam Lotteng Bangkok Tanpa Judi Sebagai Warisan Budaya
Bupati Gowa Dorong Kampung Zakat Bontomanai Dikembangkan Jadi Program Unggulan
Menko Pangan Zulkifli Hasan Dipastikan Buka Rakernas III PJS di Batam
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 08:39 WITA

Masuk Tahap Verifikasi Lapangan PUG, Darmawangsyah Muin Harap Gowa kembali Raih APE 2026

Selasa, 3 November 2026 - 01:33 WITA

KBPBI Seret Nama Presiden Direktur Epson di Kasus Staycation

Senin, 2 November 2026 - 19:14 WITA

Cegah Sejak Dini, Sosialisasi Bahaya Narkoba Sasar Pelajar SMP Wujudkan Generasi Bersih Narkoba

Senin, 2 November 2026 - 18:40 WITA

Tersembunyi di Kotak Rokok dan Kardus Lampu, Begini Cara Polisi Bongkar Kasus Sabu di Bangka Barat

Senin, 2 November 2026 - 18:25 WITA

Pengacara dan Legislator Makassar Bahas Usulan Kontes Ayam Lotteng Bangkok Tanpa Judi Sebagai Warisan Budaya

Senin, 2 November 2026 - 14:29 WITA

Bupati Gowa Dorong Kampung Zakat Bontomanai Dikembangkan Jadi Program Unggulan

Senin, 2 November 2026 - 14:11 WITA

Menko Pangan Zulkifli Hasan Dipastikan Buka Rakernas III PJS di Batam

Senin, 2 November 2026 - 11:16 WITA

Polisi Hadir, Ancaman Lalu Lintas Pelajar Diantisipasi

Berita Terbaru

Kriminal Hukum

Curas di Samping Tol Makassar, Pelaku Diringkus Polrestabes Makassar

Selasa, 3 Nov 2026 - 08:28 WITA

Serba-Serbi

KBPBI Seret Nama Presiden Direktur Epson di Kasus Staycation

Selasa, 3 Nov 2026 - 01:33 WITA