Antrean Solar Mengular di Sejumlah SPBU Bone, Jalan Macet hingga Siswa Terlambat Sekolah
Antrean solar mengular di sejumlah SPBUBone memicu Kemacetan, siswa terlambat sekolah, warga minta pengawasan dan pengaturan diperketat.
Bone, DNID.co.id — Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis solar, kembali menjadi sorotan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Antrean kendaraan yang mengular hingga menutup sebagian badan jalan tak hanya membuat pengendara harus menunggu lama, tetapi juga memicu kemacetan dan mulai mengganggu aktivitas warga. Kondisi paling terasa pada jam berangkat sekolah ketika kendaraan harus berbagi badan jalan dengan truk dan kendaraan lain yang mengantre BBM.
Pantauan DNID.co.id, Rabu (19/08/2026). Antrean kendaraan terjadi di sejumlah ruas jalan di wilayah perkotaan hingga jalur poros kabupaten. Kemacetan terpantau di antaranya di Jalan KH Agus Salim, Jalan Lapawowoi Karaeng Sigeri, Jalan Ahmad Yani, hingga Jalan MT Haryono Bulutempe.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah jalur poros, seperti kawasan SPBU Taccipi di Poros Makassar-Bone serta SPBU Boda di Poros Bone-Wajo. Antrean kendaraan bahkan membuat jalur lalu lintas seperti terputus karena badan jalan dipenuhi kendaraan yang sedang menunggu giliran mengisi BBM.
Di Jalan Lapawowoi Karaeng Sigeri, misalnya, antrean kendaraan terjadi di SPBU 74.297.07.
Meski panjang antrean disebut hanya sekitar 200 meter, posisi SPBU yang berada di jalan poros dengan kondisi badan jalan relatif sempit membuat antrean kendaraan mengambil sebagian badan jalan.
Akibatnya, kendaraan yang tidak hendak mengisi BBM hanya memiliki ruang terbatas untuk melintas.
Kemacetan pun tak terhindarkan. Pada kondisi tertentu, arus kendaraan bahkan sulit bergerak karena jalur yang seharusnya digunakan kendaraan umum telah dikuasai kendaraan yang sedang mengantre.
Yang paling dikeluhkan warga, ruas tersebut merupakan salah satu jalur yang setiap pagi dilalui siswa sekolah.
Di sekitar kawasan itu terdapat sejumlah sekolah, di antaranya SMK Negeri 1, SMP Negeri 6, SMA Negeri 3, SMK Negeri 7, serta MI.
Kondisi ini membuat siswa menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kemacetan.
Seorang siswa SMA yang ditemui di kawasan tersebut mengaku kondisi kemacetan seperti itu sudah terjadi hampir setiap hari.
“Setiap hari begini. Macet total. Kami selalu terlambat karena kita lihat saja macetnya. Jalur kiri sudah dikuasai mobil truk dan mobil lain untuk antre, jadi cuma satu jalur saja,” keluhnya.
Menurut dia, persoalan semakin parah karena antrean kendaraan besar juga terlihat di sisi jalan lainnya.
“Di depan sana juga di jalur kanan ada antre mobil besar. Walaupun kami berangkat jam 6 pagi, tetap kena macet dan pasti terlambat,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Supriadi, salah seorang pengendara yang terlihat mengantar anaknya ke sekolah.
Ia mengaku kemacetan bukan hanya terjadi saat pagi hari, tetapi juga kembali terjadi pada jam-jam tertentu ketika aktivitas masyarakat meningkat.
“Begini terus setiap hari. Jam masuk sekolah macet, begitu pun nanti pulang sekolah pasti macet juga,” ujar Supriadi.
Menurut dia, kemacetan pada jam pulang sekolah sebenarnya masih bisa ditoleransi karena aktivitas masyarakat sudah lebih longgar. Namun, kondisi berbeda ketika kemacetan terjadi pada jam masuk sekolah.
“Kalau jam pulang itu tidak masalah, tapi kalau jam masuk itu yang parah,” katanya.
Supriadi juga mempertanyakan pengawasan dan pengaturan lalu lintas di sekitar SPBU yang menjadi titik antrean.
Ia berharap ada petugas yang turun langsung mengatur kendaraan, terutama pada pagi hari saat arus siswa dan pekerja sedang padat.
“Kami juga kecewa. Seharusnya ada pihak dari Satlantas yang pagi-pagi mengatur atau orang Dinas Perhubungan. Ini tidak ada satu pun,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sikap pengelola SPBU yang dinilai belum maksimal mengantisipasi dampak antrean terhadap pengguna jalan.
“Bahkan pihak SPBU pun masa bodoh, tidak peduli lihat kemacetan. Coba kalau mereka yang rasakan bagaimana perasaannya,” ujar Supriadi.
Kondisi antrean yang berulang itu kemudian memunculkan pertanyaan lebih besar di tengah masyarakat.
Warga mulai mempertanyakan mengapa antrean BBM jenis solar di sejumlah SPBU justru semakin parah. Apakah persoalan tersebut berkaitan dengan ketersediaan stok, distribusi, tingginya kebutuhan, lemahnya pengawasan, atau adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan BBM subsidi.
“Kenapa antrean BBM jenis solar semakin parah? Apakah stoknya kurang, ataukah mafia yang bertambah, ataukah pengawasan di SPBU itu sendiri lemah bahkan tidak ada?” menjadi pertanyaan yang kini banyak disampaikan masyarakat.
Pertanyaan tersebut semakin kuat karena antrean tidak hanya terjadi di satu titik. Fenomena serupa terlihat di sejumlah SPBU dengan jalur yang berbeda, bahkan sampai ke jalan poros antarkabupaten.
Di tengah keresahan itu, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi sebelumnya memastikan ketersediaan stok BBM dan LPG 3 kilogram di Kabupaten Bone tetap terjaga.
Kepastian tersebut disampaikan dalam pertemuan Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi bersama Komisi II DPRD Kabupaten Bone di Kantor Unit Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi beberapa waktu lalu.
Pertamina memastikan ketahanan stok dilakukan melalui pengaturan pasokan dan distribusi yang disesuaikan dengan kondisi kebutuhan di lapangan.
Untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi, Pertamina juga menyatakan telah menyiapkan tambahan alokasi BBM dan LPG di atas rata-rata penyaluran harian normal.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi sekaligus menjaga kelancaran aktivitas ekonomi dan sektor lainnya yang bergantung pada ketersediaan energi.
Namun, jaminan ketersediaan stok tersebut kini berhadapan dengan kondisi di lapangan berupa antrean panjang, kemacetan, dan keluhan masyarakat.
Karena itu, warga berharap persoalan antrean tidak hanya dilihat dari sisi ketersediaan stok BBM. Pengaturan kendaraan, pengawasan penyaluran, hingga pengelolaan antrean di area SPBU dinilai perlu menjadi perhatian bersama.
Masyarakat juga berharap Satlantas, Dinas Perhubungan, Pertamina, dan pengelola SPBU dapat duduk bersama mencari solusi agar antrean tidak kembali mengambil badan jalan, terutama di kawasan yang menjadi jalur utama siswa sekolah dan pusat aktivitas warga.
Bagi warga, BBM memang dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, kebutuhan tersebut jangan sampai membuat pengguna jalan lain kehilangan hak untuk mendapatkan akses jalan yang aman dan lancar.
Terlebih, kemacetan yang terjadi setiap hari mulai berdampak langsung kepada siswa yang harus berangkat sekolah tepat waktu.
Warga berharap ada langkah nyata, bukan sekadar memastikan stok tersedia. Sebab, yang mereka hadapi setiap pagi bukan hanya antrean BBM, tetapi juga kemacetan, keterlambatan, keresahan, dan aktivitas masyarakat yang ikut terganggu.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Antrean Solar Mengular di Sejumlah SPBU Bone, Jalan Macet hingga Siswa Terlambat Sekolah
RABU, 19 AGUSTUS 2026
Antrean solar mengular di sejumlah SPBU Bone memicu kemacetan, siswa terlambat sekolah, warga minta pengawasan dan pengaturan diperketat.
Bone, DNID.co.id — Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis solar, kembali menjadi sorotan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Antrean kendaraan yang mengular hingga menutup sebagian badan jalan tak hanya membuat pengendara harus menunggu lama, tetapi juga memicu kemacetan dan mulai mengganggu aktivitas warga. Kondisi paling terasa pada jam berangkat sekolah ketika kendaraan harus berbagi badan jalan dengan truk dan kendaraan lain yang mengantre BBM.
Pantauan DNID.co.id, Rabu (19/08/2026). Antrean kendaraan terjadi di sejumlah ruas jalan di wilayah perkotaan hingga jalur poros kabupaten. Kemacetan terpantau di antaranya di Jalan KH Agus Salim, Jalan Lapawowoi Karaeng Sigeri, Jalan Ahmad Yani, hingga Jalan MT Haryono Bulutempe.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah jalur poros, seperti kawasan SPBU Taccipi di Poros Makassar-Bone serta SPBU Boda di Poros Bone-Wajo. Antrean kendaraan bahkan membuat jalur lalu lintas seperti terputus karena badan jalan dipenuhi kendaraan yang sedang menunggu giliran mengisi BBM.
Di Jalan Lapawowoi Karaeng Sigeri, misalnya, antrean kendaraan terjadi di SPBU 74.297.07.
Meski panjang antrean disebut hanya sekitar 200 meter, posisi SPBU yang berada di jalan poros dengan kondisi badan jalan relatif sempit membuat antrean kendaraan mengambil sebagian badan jalan.
Akibatnya, kendaraan yang tidak hendak mengisi BBM hanya memiliki ruang terbatas untuk melintas.
Kemacetan pun tak terhindarkan. Pada kondisi tertentu, arus kendaraan bahkan sulit bergerak karena jalur yang seharusnya digunakan kendaraan umum telah dikuasai kendaraan yang sedang mengantre.
Yang paling dikeluhkan warga, ruas tersebut merupakan salah satu jalur yang setiap pagi dilalui siswa sekolah.
Di sekitar kawasan itu terdapat sejumlah sekolah, di antaranya SMK Negeri 1, SMP Negeri 6, SMA Negeri 3, SMK Negeri 7, serta MI.
Kondisi ini membuat siswa menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kemacetan.
Seorang siswa SMA yang ditemui di kawasan tersebut mengaku kondisi kemacetan seperti itu sudah terjadi hampir setiap hari.
“Setiap hari begini. Macet total. Kami selalu terlambat karena kita lihat saja macetnya. Jalur kiri sudah dikuasai mobil truk dan mobil lain untuk antre, jadi cuma satu jalur saja,” keluhnya.
Menurut dia, persoalan semakin parah karena antrean kendaraan besar juga terlihat di sisi jalan lainnya.
“Di depan sana juga di jalur kanan ada antre mobil besar. Walaupun kami berangkat jam 6 pagi, tetap kena macet dan pasti terlambat,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Supriadi, salah seorang pengendara yang terlihat mengantar anaknya ke sekolah.
Ia mengaku kemacetan bukan hanya terjadi saat pagi hari, tetapi juga kembali terjadi pada jam-jam tertentu ketika aktivitas masyarakat meningkat.
“Begini terus setiap hari. Jam masuk sekolah macet, begitu pun nanti pulang sekolah pasti macet juga,” ujar Supriadi.
Menurut dia, kemacetan pada jam pulang sekolah sebenarnya masih bisa ditoleransi karena aktivitas masyarakat sudah lebih longgar. Namun, kondisi berbeda ketika kemacetan terjadi pada jam masuk sekolah.
“Kalau jam pulang itu tidak masalah, tapi kalau jam masuk itu yang parah,” katanya.
Supriadi juga mempertanyakan pengawasan dan pengaturan lalu lintas di sekitar SPBU yang menjadi titik antrean.
Ia berharap ada petugas yang turun langsung mengatur kendaraan, terutama pada pagi hari saat arus siswa dan pekerja sedang padat.
“Kami juga kecewa. Seharusnya ada pihak dari Satlantas yang pagi-pagi mengatur atau orang Dinas Perhubungan. Ini tidak ada satu pun,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sikap pengelola SPBU yang dinilai belum maksimal mengantisipasi dampak antrean terhadap pengguna jalan.
“Bahkan pihak SPBU pun masa bodoh, tidak peduli lihat kemacetan. Coba kalau mereka yang rasakan bagaimana perasaannya,” ujar Supriadi.
Kondisi antrean yang berulang itu kemudian memunculkan pertanyaan lebih besar di tengah masyarakat.
Warga mulai mempertanyakan mengapa antrean BBM jenis solar di sejumlah SPBU justru semakin parah. Apakah persoalan tersebut berkaitan dengan ketersediaan stok, distribusi, tingginya kebutuhan, lemahnya pengawasan, atau adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan BBM subsidi.
“Kenapa antrean BBM jenis solar semakin parah? Apakah stoknya kurang, ataukah mafia yang bertambah, ataukah pengawasan di SPBU itu sendiri lemah bahkan tidak ada?” menjadi pertanyaan yang kini banyak disampaikan masyarakat.
Pertanyaan tersebut semakin kuat karena antrean tidak hanya terjadi di satu titik. Fenomena serupa terlihat di sejumlah SPBU dengan jalur yang berbeda, bahkan sampai ke jalan poros antarkabupaten.
Di tengah keresahan itu, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi sebelumnya memastikan ketersediaan stok BBM dan LPG 3 kilogram di Kabupaten Bone tetap terjaga.
Kepastian tersebut disampaikan dalam pertemuan Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi bersama Komisi II DPRD Kabupaten Bone di Kantor Unit Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi beberapa waktu lalu.
Pertamina memastikan ketahanan stok dilakukan melalui pengaturan pasokan dan distribusi yang disesuaikan dengan kondisi kebutuhan di lapangan.
Untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi, Pertamina juga menyatakan telah menyiapkan tambahan alokasi BBM dan LPG di atas rata-rata penyaluran harian normal.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi sekaligus menjaga kelancaran aktivitas ekonomi dan sektor lainnya yang bergantung pada ketersediaan energi.
Namun, jaminan ketersediaan stok tersebut kini berhadapan dengan kondisi di lapangan berupa antrean panjang, kemacetan, dan keluhan masyarakat.
Karena itu, warga berharap persoalan antrean tidak hanya dilihat dari sisi ketersediaan stok BBM. Pengaturan kendaraan, pengawasan penyaluran, hingga pengelolaan antrean di area SPBU dinilai perlu menjadi perhatian bersama.
Masyarakat juga berharap Satlantas, Dinas Perhubungan, Pertamina, dan pengelola SPBU dapat duduk bersama mencari solusi agar antrean tidak kembali mengambil badan jalan, terutama di kawasan yang menjadi jalur utama siswa sekolah dan pusat aktivitas warga.
Bagi warga, BBM memang dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, kebutuhan tersebut jangan sampai membuat pengguna jalan lain kehilangan hak untuk mendapatkan akses jalan yang aman dan lancar.
Terlebih, kemacetan yang terjadi setiap hari mulai berdampak langsung kepada siswa yang harus berangkat sekolah tepat waktu.
Warga berharap ada langkah nyata, bukan sekadar memastikan stok tersedia. Sebab, yang mereka hadapi setiap pagi bukan hanya antrean BBM, tetapi juga kemacetan, keterlambatan, keresahan, dan aktivitas masyarakat yang ikut terganggu.