Publik dan Insan Media Desak KY dan Kompolnas Awasi Persidangan Kematian Virendy

Daily News Indonesia – Kota Makassar. Perkara kematian Virendy Marjefy Wehantouw, mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Arsitektur Universitas Hasanuddin (Unhas) yang tewas dengan sejumlah luka dan lebam di sekujur tubuhnya.

Saat itu korban mengikuti kegiatan Diksar & Ormed XXVII UKM Mapala 09 FT Unhas pada pertengahan Januari 2023, kini memasuki babak persidangan dengan mengadili 2 (dua) orang mahasiswa sebagai terdakwanya.

Keterangan yang dihimpun media Selasa (05/03/2024) menyebutkan, dua terdakwa yang diseret oleh tim jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Maros ke kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Maros dengan berdasarkan hasil penyidikan aparat Satreskrim Polres Maros, yakni Muh. Ibrahim Fauzi Bin Muh. Ismail (Ketua UKM Mapala 09 FT Unhas) dan Farhan Tahir Bin Muh. Tahir Dg Boko (Ketua Panitia Diksar & Ormed XXVII UKM Mapala 09 FT Unhas).

Seperti ramai diberitakan sejumlah media Senin (04/03/2024) kemarin, sidang perdana kasus ini sudah bergulir sejak Kamis (29/02/2024) di PN Maros.

Konon kabarnya, majelis hakim yang menyidangkan perkara tersebut dipimpin langsung oleh Ketua PN Maros, Khairul, SH, MH. Sementara bertindak sebagai tim penuntut umum disebut-sebut dipimpin jaksa senior di Kejari Maros yakni M. Alatas (Kasubsi Pidsus) dan anggotanya Ade Hartanto Isman, SH.

Pelaksanaan sidang perdana yang tanpa adanya pemberitahuan atau informasi ke keluarga korban, publik dan insan media, juga telah mengakibatkan munculnya berbagai pertanyaan dan dugaan-dugaan terkait tidak adanya transparansi.

Oleh karena itu oknum-oknum aparat penegak hukum (APH) dalam menangani secara profesional terhadap kasus kematian mahasiswa FT Unhas yang sempat viral dan menjadi atensi masyarakat luas dan khususnya kalangan mahasiswa.

Soal tidak adanya transparansi yang sudah ditunjukkan oknum-oknum APH sejak kasus ini masih bergulir di kepolisian, kejaksaan hingga kini telah disidangkan di pengadilan,

Dengan begitu membuat publik dan insan media angkat bicara mendesak Komisi Kejaksaan, Komisi Yudisial dan juga Kompolnas untuk turun memantau jalannya persidangan,

Sampai benar-benar kasus tersebut bisa terungkap secara transparan dan menciptakan keadilan serta penegakkan hukum yang diharapkan semua pihak.

Ahli Pers dari Dewan Pers, Yonathan Mandiangan saat dimintakan komentarnya mengemukakan, kasus terbunuhnya putra seorang wartawan senior di daerah ini sejak awal sudah terlihat banyak yang mengganjal,

Baik dalam pengungkapan kronologis dan penyebab kematian mahasiswa FT Unhas itu ketika mengikuti kegiatan Diksar & Ormed XXVII UKM Mapala 09 FT Unhas pada Januari 2023 di wilayah Kabupaten Maros dan Gowa.

“Dari hasil investigasi di lapangan yang dilakukan pihak keluarga dan dibantu teman-teman media, harus diakui banyak kejanggalan yang ditemukan. Bahkan sederet fakta kejadian dan bukti-bukti yang ditemukan, telah diabaikan dan dikesampingkan oleh oknum-oknum APH dalam mengungkap kronologis dan motif sebenarnya yang mencerminkan keadilan hukum bagi keluarga korban,” tutur Penasehat PWI Sulsel ini.

Menurut wartawan senior yang di masa silamnya dikenal aktif bergelut menjalankan tugas jurnalistik di lingkungan kepolisian, kejaksaan dan pengadilan, sejak awal pula sudah tampak adanya indikasi upaya-upaya untuk membungkam hingga merekayasa pengungkapan kasus ini yang diduga keras melibatkan oknum-oknum tertentu di institusi Unhas dengan berkolaborasi oknum-oknum aparat kepolisian dan kini kejaksaan.

“Karenanya, mewakili teman-teman media, saya berharap pihak Komisi Kejaksaan, Komisi Yudisial dan juga Kompolnas untuk turun langsung memantau serta mengawal jalannya persidangan di Pengadilan Negeri Maros agar misteri di balik kematian Virendy dapat terkuak secara transparan dan majelis hakim yang menyidangkan perkara ini bisa melahirkan suatu keputusan yang benar-benar penuh keadilan hukum,” tandas Yonathan Mandiangan.

Dihubungi terpisah, Yodi Kristianto, SH, MH selaku Kuasa Hukum keluarga almarhum Virendy menerangkan, wajar saja jika pihak keluarga korban merasa kecewa dan penuh tandatanya menyikapi pelaksanaan sidang perkara kematian Virendy yang pekan lalu telah bergulir di PN Maros tanpa mereka ketahui.

“Sama sekali tidak ada informasi ke klien kami. Sehingga terkesan dilakukan secara diam-diam. Ada apa yah ? Padahal pihak keluarga dan juga publik, kalangan mahasiswa hingga teman-teman media ingin mengawal kasus ini sampai tuntas,” tegasnya.

Direktur Kantor Advokat dan Konsultan Hukum YK&Partners ini menjelaskan lagi, pihaknya akan memastikan proses hukum bakal tetap berjalan sebagaimana mestinya,

Ia juga tidak mempersoalkan jika ada desakan publik dan insan media yang meminta Komisi Kejaksaan, Komisi Yudisial dan Kompolnas untuk turun tangan.

“Ada tupoksi Komisi Kejaksaan, Komisi Yudisial dan Kompolnas yang secara tegas dan jelas diatur dalam Undang-Undang,” ujarnya.

Pengacara muda yang tercatat sebagai anggota DPC Peradi Kota Makassar itu mengingatkan pula, kemungkinan besar akan ada fakta-fakta baru yang bakal terungkap dalam persidangan. Hal tersebut yang menyebabkan besarnya perhatian Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Republik Indonesia (RI) untuk turut terlibat pada perkara ini.

“Selaku kuasa hukum, kami mendukung penuh pula jika pihak keluarga almarhum Virendy ataupun publik secara luas dan terkhusus teman-teman media turut mendesak Komisi Kejaksaan, Komisi Yudisial dan Kompolnas memberikan atensi serta ikut turun memantau persidangan kasus ini,” tutup pengacara yang masih lajang itu. (05/03/2024), Tutup. **

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Selasa, 5 Maret 2024

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Penulis: I 'Tisham Fajri

Editor: Redaksi

Sumber Berita: H/H

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Personel Polrestabes Makassar Amankan Pemuda Bawa Busur Saat Tawuran
Kanit Reskrim Polres Jeneponto Klarifikasi Soal Uang Rp25 Juta yang Viral: Itu Uang Jaminan
Sidang Praperadilan Hendy Memanas, Kerusakan MOT Dipersoalkan dalam Dugaan Korupsi
46 Anggota DPRD Makassar Terseret Lebih Bayar Tunjangan Rp1,4 M, Rp339 Juta Belum Dikembalikan
Praperadilan Hendy di PN Pangkalpinang: Penyidik Dicecar Dasar Penetapan Tersangka Dugaan Korupsi MOT
Terekam dan Tertangkap, Pria Diduga Asusila di Tempat Umum Diamankan Polisi
Dana BPJS Nakes Diduga Mengendap di RSUD Syekh Yusuf, Kejari Gowa Turun Telusuri Jejaknya
PNS Laporkan Dugaan Pengeroyokan ke Polda Sulsel, Sebut Aiptu Susanto dan Sejumlah Anggota Terlibat
Berita ini 79 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 23:06 WITA

Personel Polrestabes Makassar Amankan Pemuda Bawa Busur Saat Tawuran

Kamis, 17 September 2026 - 22:31 WITA

Kanit Reskrim Polres Jeneponto Klarifikasi Soal Uang Rp25 Juta yang Viral: Itu Uang Jaminan

Kamis, 17 September 2026 - 18:51 WITA

Sidang Praperadilan Hendy Memanas, Kerusakan MOT Dipersoalkan dalam Dugaan Korupsi

Kamis, 17 September 2026 - 18:50 WITA

46 Anggota DPRD Makassar Terseret Lebih Bayar Tunjangan Rp1,4 M, Rp339 Juta Belum Dikembalikan

Kamis, 17 September 2026 - 18:30 WITA

Praperadilan Hendy di PN Pangkalpinang: Penyidik Dicecar Dasar Penetapan Tersangka Dugaan Korupsi MOT

Kamis, 17 September 2026 - 16:55 WITA

Terekam dan Tertangkap, Pria Diduga Asusila di Tempat Umum Diamankan Polisi

Kamis, 17 September 2026 - 16:42 WITA

Dana BPJS Nakes Diduga Mengendap di RSUD Syekh Yusuf, Kejari Gowa Turun Telusuri Jejaknya

Kamis, 17 September 2026 - 16:34 WITA

PNS Laporkan Dugaan Pengeroyokan ke Polda Sulsel, Sebut Aiptu Susanto dan Sejumlah Anggota Terlibat

Berita Terbaru

Kriminal Hukum

Personel Polrestabes Makassar Amankan Pemuda Bawa Busur Saat Tawuran

Kamis, 17 Sep 2026 - 23:06 WITA