Perjuangan Sugia Kam Menjaga Teh Warisan Jebus Menghadapi Tekanan Ekspansi Sawit Besar
PANGKALPINANG ,Dnid.Co.Id —Di tengah masifnya ekspansi perkebunan kelapa sawit di Bangka Barat, satu warisan lokal justru sedang berjuang bertahan hidup. Teh Tayu, teh khas asal Kecamatan Jebus yang dikenal memiliki aroma unik dan tumbuh di dataran rendah langka, kini mulai menembus pasar internasional hingga Paris, Prancis. Namun ironisnya, jumlah petani yang mempertahankannya justru terus menyusut.
Fakta itu diungkap langsung pegiat sekaligus pelestari Teh Tayu, Sugia Kam, saat memperkenalkan produk khas Jebus tersebut di Kantor KBO Babel, Pangkalpinang, Kamis (21/5/2026). Di hadapan awak media, Sugia menegaskan Teh Tayu bukan sekadar komoditas minuman, melainkan identitas budaya masyarakat Bangka Barat yang kini berada di persimpangan antara bertahan atau hilang perlahan.
“Teh Tayu ini bukan sekadar minuman. Ini bagian dari sejarah, budaya, dan kekayaan alam Jebus yang harus dijaga bersama,” kata Sugia Kam.
Berbeda dari kebanyakan tanaman teh yang tumbuh di kawasan pegunungan, Teh Tayu justru hidup di dataran rendah Jebus. Kondisi tanah dan iklim wilayah itu menciptakan karakter rasa ringan dengan aroma khas yang disebut sulit ditemukan di daerah lain. Keunikan tersebut menjadikan Teh Tayu sebagai salah satu teh dataran rendah langka di Indonesia.
Namun di balik popularitas yang mulai mendunia, ancaman terhadap keberlanjutan Teh Tayu justru semakin nyata. Sugia mengungkapkan banyak petani memilih meninggalkan tanaman teh dan beralih ke sawit karena dianggap lebih cepat menghasilkan keuntungan ekonomi.
“Sekarang petani Teh Tayu semakin sedikit. Banyak yang beralih ke sawit karena dianggap lebih menjanjikan. Kalau tidak ada perhatian serius, kami khawatir Teh Tayu bisa perlahan hilang,” ujarnya.
Kondisi itu dinilai menjadi alarm serius bagi pelestarian produk lokal Bangka Barat. Sebab, selain memiliki nilai ekonomi, Teh Tayu juga menyimpan potensi wisata budaya dan kekuatan identitas daerah yang tidak dimiliki produk lain.
Selama ini, budidaya Teh Tayu masih dilakukan secara tradisional oleh masyarakat setempat. Mulai dari pemilihan bibit hingga proses pengeringan daun dilakukan manual demi menjaga cita rasa asli.
“Daunnya dipilih secara khusus, lalu diolah dengan cara tradisional supaya cita rasa dan aromanya tetap asli,” jelas Sugia.
Tidak hanya dikonsumsi sebagai minuman, Teh Tayu juga diyakini masyarakat memiliki manfaat kesehatan, mulai dari membantu relaksasi tubuh hingga melancarkan pencernaan. Bahkan, hasil penelitian laboratorium Polman Sungailiat menunjukkan ampas Teh Tayu masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
“Bukan hanya tehnya yang bermanfaat diminum, tetapi ampasnya juga bisa digunakan sebagai pupuk alami. Ini menjadi nilai tambah yang luar biasa,” ungkapnya.
Perjalanan Teh Tayu menuju pasar internasional pun tidak terjadi instan. Sugia mengaku memulai promosi dari lingkungan kecil di Bangka Barat sebelum akhirnya produk tersebut tampil di berbagai pameran dan berhasil masuk galeri di Paris.
“Awalnya kami hanya memperkenalkan di daerah sendiri. Pelan-pelan mulai dikenal lebih luas sampai akhirnya bisa masuk galeri di Paris. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jebus,” katanya.
Meski demikian, Sugia menilai perhatian pemerintah terhadap pengembangan Teh Tayu masih perlu diperkuat, terutama dalam pembinaan petani, promosi produk, hingga perluasan pasar.
“Kami berharap pemerintah ikut membantu promosi Teh Tayu agar lebih dikenal masyarakat luas, bahkan dunia. Ini bisa menjadi ciri khas minuman asal Bangka Barat sekaligus membantu perekonomian masyarakat,” harapnya.
Di tengah arus modernisasi dan dominasi industri sawit, perjuangan mempertahankan Teh Tayu kini menjadi simbol perlawanan masyarakat lokal menjaga identitas daerahnya sendiri. Dari Jebus menuju Paris, aroma Teh Tayu memang mulai mengharumkan Bangka Belitung. Namun tanpa dukungan serius dan regenerasi petani, warisan itu terancam tinggal cerita.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Perjuangan Sugia Kam Menjaga Teh Warisan Jebus Menghadapi Tekanan Ekspansi Sawit Besar
JUMAT, 22 MEI 2026
PANGKALPINANG ,Dnid.Co.Id —Di tengah masifnya ekspansi perkebunan kelapa sawit di Bangka Barat, satu warisan lokal justru sedang berjuang bertahan hidup. Teh Tayu, teh khas asal Kecamatan Jebus yang dikenal memiliki aroma unik dan tumbuh di dataran rendah langka, kini mulai menembus pasar internasional hingga Paris, Prancis. Namun ironisnya, jumlah petani yang mempertahankannya justru terus menyusut.
Fakta itu diungkap langsung pegiat sekaligus pelestari Teh Tayu, Sugia Kam, saat memperkenalkan produk khas Jebus tersebut di Kantor KBO Babel, Pangkalpinang, Kamis (21/5/2026). Di hadapan awak media, Sugia menegaskan Teh Tayu bukan sekadar komoditas minuman, melainkan identitas budaya masyarakat Bangka Barat yang kini berada di persimpangan antara bertahan atau hilang perlahan.
“Teh Tayu ini bukan sekadar minuman. Ini bagian dari sejarah, budaya, dan kekayaan alam Jebus yang harus dijaga bersama,” kata Sugia Kam.
Berbeda dari kebanyakan tanaman teh yang tumbuh di kawasan pegunungan, Teh Tayu justru hidup di dataran rendah Jebus. Kondisi tanah dan iklim wilayah itu menciptakan karakter rasa ringan dengan aroma khas yang disebut sulit ditemukan di daerah lain. Keunikan tersebut menjadikan Teh Tayu sebagai salah satu teh dataran rendah langka di Indonesia.
Namun di balik popularitas yang mulai mendunia, ancaman terhadap keberlanjutan Teh Tayu justru semakin nyata. Sugia mengungkapkan banyak petani memilih meninggalkan tanaman teh dan beralih ke sawit karena dianggap lebih cepat menghasilkan keuntungan ekonomi.
“Sekarang petani Teh Tayu semakin sedikit. Banyak yang beralih ke sawit karena dianggap lebih menjanjikan. Kalau tidak ada perhatian serius, kami khawatir Teh Tayu bisa perlahan hilang,” ujarnya.
Kondisi itu dinilai menjadi alarm serius bagi pelestarian produk lokal Bangka Barat. Sebab, selain memiliki nilai ekonomi, Teh Tayu juga menyimpan potensi wisata budaya dan kekuatan identitas daerah yang tidak dimiliki produk lain.
Selama ini, budidaya Teh Tayu masih dilakukan secara tradisional oleh masyarakat setempat. Mulai dari pemilihan bibit hingga proses pengeringan daun dilakukan manual demi menjaga cita rasa asli.
“Daunnya dipilih secara khusus, lalu diolah dengan cara tradisional supaya cita rasa dan aromanya tetap asli,” jelas Sugia.
Tidak hanya dikonsumsi sebagai minuman, Teh Tayu juga diyakini masyarakat memiliki manfaat kesehatan, mulai dari membantu relaksasi tubuh hingga melancarkan pencernaan. Bahkan, hasil penelitian laboratorium Polman Sungailiat menunjukkan ampas Teh Tayu masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
“Bukan hanya tehnya yang bermanfaat diminum, tetapi ampasnya juga bisa digunakan sebagai pupuk alami. Ini menjadi nilai tambah yang luar biasa,” ungkapnya.
Perjalanan Teh Tayu menuju pasar internasional pun tidak terjadi instan. Sugia mengaku memulai promosi dari lingkungan kecil di Bangka Barat sebelum akhirnya produk tersebut tampil di berbagai pameran dan berhasil masuk galeri di Paris.
“Awalnya kami hanya memperkenalkan di daerah sendiri. Pelan-pelan mulai dikenal lebih luas sampai akhirnya bisa masuk galeri di Paris. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jebus,” katanya.
Meski demikian, Sugia menilai perhatian pemerintah terhadap pengembangan Teh Tayu masih perlu diperkuat, terutama dalam pembinaan petani, promosi produk, hingga perluasan pasar.
“Kami berharap pemerintah ikut membantu promosi Teh Tayu agar lebih dikenal masyarakat luas, bahkan dunia. Ini bisa menjadi ciri khas minuman asal Bangka Barat sekaligus membantu perekonomian masyarakat,” harapnya.
Di tengah arus modernisasi dan dominasi industri sawit, perjuangan mempertahankan Teh Tayu kini menjadi simbol perlawanan masyarakat lokal menjaga identitas daerahnya sendiri. Dari Jebus menuju Paris, aroma Teh Tayu memang mulai mengharumkan Bangka Belitung. Namun tanpa dukungan serius dan regenerasi petani, warisan itu terancam tinggal cerita.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.