Modus Gudang Keliling Masih Jalan, Warga Curiga Ada Orang Dalam Lindungi Mafia Solar di Bone
Bone, DNID.co.id — Dugaan penyelewengan Biosolar subsidi di Kabupaten Bone belum berhenti. Meski sudah beberapa kali terekspos media, aktivitas penampungan dan pengiriman solar oleh oknum berinisial LK disebut masih jalan terus.
Kini modusnya berubah. Dari gudang tetap, menjadi sistem “gudang keliling”. Hal ini membuat warga curiga ada pembiaran dari aparat.
“Kegiatan penampungan dan pengiriman solar subsidi yang dilakukan LK sudah sering terekspos di pemberitaan. Tapi aparat kepolisian hanya diam saja.
Masyarakat patut curiga kalau ada orang yang diandalkan di Polres atau yang lindungi,” ujar warga, Kecamatan Ulaweng, Minggu (2/8/2026).
Warga menyebut penjemputan solar subsidi masih berlangsung setiap malam.
“Setiap malam ada mobil pick up yang datang mengambil solar subsidi yang ditampung. Ada dua yang selalu datang, kadang hitam kadang juga putih,” katanya.
Solar tidak lagi ditumpuk di satu tempat. Melainkan disebar ke rumah-rumah “pasedot”.
“Masing-masing pasedot simpan di rumahnya. Nanti kalau ada pembeli yang datang baru pergi na jemput itu semua solar-solarnya. Jadi dia pisah-pisah,” lanjutnya.
Pada Rabu malam (29/7/2026), warga melihat satu unit pick up hitam bak tinggi mengangkut sekitar 100 jerigen keluar dari lokasi LK. Mobil itu terpantau mengarah ke jalur Bone – Wajo.
“Dia itu ambil di SPBU Taccipi, Ulaweng Kabupaten Bone. Kebanyakan mobil-mobil pasedot yang antri itu na kasih LK. Jalan terus itu LK,” ungkapnya.
Kondisi ini paling dirasakan petani dan nelayan. Padahal mereka yang paling berhak atas solar subsidi.
Dandi, seorang petani mengaku kesulitan hanya untuk mendapatkan 20 liter solar.
“Sering saya di tolak di SPBU mau ambil solar subsidi tidak di layani operator alasan antri. Padahal saya ini petani asli dan rekomendasi asli dari desa dan pertanian lengkap. Tapi tetap di dahulukan pelansir yang ambil ratusan liter,” keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan Nasir, sopir yang antre di SPBU.
“Kebanyakan itu pa sedot. Banyak juga pakai pelat yang tidak sesuai dengan barcode,” katanya.
Warga menilai wajar jika terjadi kelangkaan. Karena solar subsidi yang seharusnya untuk pompa sawah dan perahu nelayan di Bone, justru diduga dikirim keluar kabupaten.
Melihat situasi ini, warga menitipkan harapan besar ke Kapolres Bone yang baru menjabat.
“Warga berharap Kapolres baru yang menjabat bisa menjawab keresahan masyarakat. Karena masyarakat petani sangat membutuhkan solar subsidi mesin pompa untuk mengairi sawah dan nelayan sangat membutuhkan solar subsidi untuk melaut,” ujar warga.
Warga sangat berharap Polres Bone segera menyelidiki lokasi penampungan “gudang keliling” dan memeriksa mobil pick up yang disebut.
Selain itu Pemerintah Daerah memberi teguran dan menerjunkan anggota satpol PP, Babinsa serta Bhabinkamtibmas untuk mengawasi lansung ke SPBU yang diduga jadi titik kumpul mafia solar Subsidi.
Masyarakat juga meminta BPH Migas dan Pertamina Patra Niaga mengaudit distribusi Biosolar subsidi dan memeriksa meneger hingga operator di SPBU Taccipi dan SPBU rawan lain.
Hingga berita ini diterbitkan, seluruh informasi di atas masih berdasarkan keterangan sejumlah narasumber dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Hingga berita ini diterbitkan, Redaksi DNID.co.id masih berupaya mengonfirmasi hal tersebut kepada Polres Bone melalui Satuan Reserse Kriminal (Reskrim), BPH Migas Sulsel, Pertamina Patra Niaga Regional Sulsel, pengelola SPBU Taccipi, dan pihak LK.
Apabila telah diperoleh klarifikasi atau hasil penyelidikan resmi, berita ini akan diperbarui dengan tetap menjunjung asas keberimbangan dan praduga tak bersalah.
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.
EDISI SPESIAL
Daily News Indonesia
Berita Harian Indonesia
WWW.DNID.CO.ID
Modus Gudang Keliling Masih Jalan, Warga Curiga Ada Orang Dalam Lindungi Mafia Solar di Bone
SENIN, 3 AGUSTUS 2026
Bone, DNID.co.id — Dugaan penyelewengan Biosolar subsidi di Kabupaten Bone belum berhenti. Meski sudah beberapa kali terekspos media, aktivitas penampungan dan pengiriman solar oleh oknum berinisial LK disebut masih jalan terus.
Kini modusnya berubah. Dari gudang tetap, menjadi sistem "gudang keliling". Hal ini membuat warga curiga ada pembiaran dari aparat.
"Kegiatan penampungan dan pengiriman solar subsidi yang dilakukan LK sudah sering terekspos di pemberitaan. Tapi aparat kepolisian hanya diam saja.
Masyarakat patut curiga kalau ada orang yang diandalkan di Polres atau yang lindungi," ujar warga, Kecamatan Ulaweng, Minggu (2/8/2026).
Warga menyebut penjemputan solar subsidi masih berlangsung setiap malam.
"Setiap malam ada mobil pick up yang datang mengambil solar subsidi yang ditampung. Ada dua yang selalu datang, kadang hitam kadang juga putih," katanya.
Solar tidak lagi ditumpuk di satu tempat. Melainkan disebar ke rumah-rumah "pasedot".
"Masing-masing pasedot simpan di rumahnya. Nanti kalau ada pembeli yang datang baru pergi na jemput itu semua solar-solarnya. Jadi dia pisah-pisah," lanjutnya.
Pada Rabu malam (29/7/2026), warga melihat satu unit pick up hitam bak tinggi mengangkut sekitar 100 jerigen keluar dari lokasi LK. Mobil itu terpantau mengarah ke jalur Bone - Wajo.
"Dia itu ambil di SPBU Taccipi, Ulaweng Kabupaten Bone. Kebanyakan mobil-mobil pasedot yang antri itu na kasih LK. Jalan terus itu LK," ungkapnya.
Kondisi ini paling dirasakan petani dan nelayan. Padahal mereka yang paling berhak atas solar subsidi.
Dandi, seorang petani mengaku kesulitan hanya untuk mendapatkan 20 liter solar.
"Sering saya di tolak di SPBU mau ambil solar subsidi tidak di layani operator alasan antri. Padahal saya ini petani asli dan rekomendasi asli dari desa dan pertanian lengkap. Tapi tetap di dahulukan pelansir yang ambil ratusan liter," keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan Nasir, sopir yang antre di SPBU.
"Kebanyakan itu pa sedot. Banyak juga pakai pelat yang tidak sesuai dengan barcode," katanya.
Warga menilai wajar jika terjadi kelangkaan. Karena solar subsidi yang seharusnya untuk pompa sawah dan perahu nelayan di Bone, justru diduga dikirim keluar kabupaten.
Melihat situasi ini, warga menitipkan harapan besar ke Kapolres Bone yang baru menjabat.
"Warga berharap Kapolres baru yang menjabat bisa menjawab keresahan masyarakat. Karena masyarakat petani sangat membutuhkan solar subsidi mesin pompa untuk mengairi sawah dan nelayan sangat membutuhkan solar subsidi untuk melaut," ujar warga.
Warga sangat berharap Polres Bone segera menyelidiki lokasi penampungan "gudang keliling" dan memeriksa mobil pick up yang disebut.
Selain itu Pemerintah Daerah memberi teguran dan menerjunkan anggota satpol PP, Babinsa serta Bhabinkamtibmas untuk mengawasi lansung ke SPBU yang diduga jadi titik kumpul mafia solar Subsidi.
Masyarakat juga meminta BPH Migas dan Pertamina Patra Niaga mengaudit distribusi Biosolar subsidi dan memeriksa meneger hingga operator di SPBU Taccipi dan SPBU rawan lain.
Hingga berita ini diterbitkan, seluruh informasi di atas masih berdasarkan keterangan sejumlah narasumber dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Hingga berita ini diterbitkan, Redaksi DNID.co.id masih berupaya mengonfirmasi hal tersebut kepada Polres Bone melalui Satuan Reserse Kriminal (Reskrim), BPH Migas Sulsel, Pertamina Patra Niaga Regional Sulsel, pengelola SPBU Taccipi, dan pihak LK.
Apabila telah diperoleh klarifikasi atau hasil penyelidikan resmi, berita ini akan diperbarui dengan tetap menjunjung asas keberimbangan dan praduga tak bersalah.