Bertahan Sejak 1998, Kue Lempit Sendangdawuhan Hadapi Tantangan Regenerasi

KENDAL, DNID.co.id – Usaha Kue Lempit di Desa Sendangdawuhan, Kabupaten Kendal, telah bertahan sejak 1998 dengan mempertahankan produksi makanan tradisional tanpa bahan pengawet. Namun, di tengah perjalanan usaha yang telah berlangsung puluhan tahun tersebut, keberlanjutan Kue Lempit kini menghadapi tantangan karena belum adanya generasi penerus yang secara khusus melanjutkan usaha tersebut.

Potensi sekaligus tantangan UMKM tradisional itu menjadi perhatian mahasiswa UIN Walisongo Semarang saat melakukan kunjungan dan observasi ke tempat produksi Kue Lempit pada Rabu (3/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa menggali informasi mengenai sejarah usaha, proses produksi, bahan baku, hingga strategi pemasaran yang masih dijalankan pemilik.

Pemilik usaha menuturkan, usaha pembuatan Kue Lempit dirintis sejak 1998 setelah dirinya kembali dari Malaysia. Berbekal pengalaman dan keterampilan yang dimiliki, ia kemudian mengembangkan usaha makanan ringan tersebut secara mandiri.

“Mulai membuat sejak tahun 1998, setelah kembali dari Malaysia,” ujarnya.

Dalam perkembangannya, Kue Lempit diproduksi dalam sejumlah variasi bentuk. Selain model egg roll, produk tersebut juga dibuat dalam bentuk caping, segitiga, dan beberapa variasi lainnya dengan menggunakan cetakan khusus.

Bahan baku yang digunakan antara lain tepung tapioka, tepung terigu, margarin, gula, dan telur. Pemilik usaha menyebut produknya dibuat tanpa menggunakan bahan pengawet. Dengan penyimpanan yang baik, Kue Lempit dapat bertahan hingga sekitar dua bulan.

Permintaan biasanya meningkat pada momen tertentu, terutama menjelang bulan haji dan Hari Raya Idulfitri. Pada periode tersebut, kebutuhan masyarakat terhadap makanan ringan dan sajian khas turut mendorong peningkatan permintaan produk.

Dalam pemasarannya, usaha Kue Lempit masih mengandalkan penjualan langsung dan sistem titip jual. Produk dipasarkan melalui warung, toko, kios, hingga pasar di sejumlah wilayah sekitar.

Pemilik juga melakukan pemasaran secara langsung dengan berkeliling menggunakan sepeda untuk menawarkan produknya kepada warung-warung dan konsumen.

“Penjualannya dititipkan di toko, di pasar, dan warung-warung. Kemudian siang diambil, kalau ada yang rusak dikembalikan,” ungkapnya.

Melalui sistem titip jual, produk ditempatkan di sejumlah lokasi pemasaran dan kemudian diambil kembali oleh pemilik. Apabila terdapat produk yang rusak atau tidak layak jual, produk tersebut dikembalikan kepada pemilik untuk ditangani.

Saat ini, Kue Lempit dijual dengan harga sekitar Rp40.000 per kilogram. Harga tersebut mengalami perubahan dibandingkan masa awal usaha yang berada di kisaran Rp15.000 per kilogram.

Meski telah bertahan selama hampir tiga dekade, persoalan regenerasi menjadi salah satu tantangan bagi keberlanjutan usaha tersebut. Hingga kini, belum ada anggota keluarga atau generasi penerus yang secara khusus melanjutkan keterampilan membuat Kue Lempit.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena keterampilan produksi yang dijalankan selama bertahun-tahun berpotensi terhenti apabila tidak diwariskan kepada generasi berikutnya. Padahal, Kue Lempit tidak hanya memiliki nilai ekonomi bagi pemilik usaha, tetapi juga menyimpan keterampilan dan pengalaman yang menjadi bagian dari potensi kuliner lokal.

Kunjungan mahasiswa tersebut menjadi bagian dari upaya mengenali dan mendokumentasikan potensi UMKM masyarakat Desa Sendangdawuhan. Melalui observasi langsung, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai proses produksi, pola pemasaran, sistem titip jual, serta berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha tradisional.

Keberadaan usaha Kue Lempit yang telah bertahan sejak 1998 diharapkan tetap mendapat perhatian dan dikenal oleh masyarakat. Selain mendukung keberlangsungan UMKM lokal, upaya tersebut juga penting untuk menjaga keberadaan produk kuliner tradisional agar tidak hilang seiring perubahan zaman dan tantangan regenerasi.

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Simpan Gambar:

Jumat, 4 September 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Penulis: Imam Aqil Macca

Editor: Arya Krida

Sumber Berita: Mahasiswa KKN Posko 163 UIN Walisongo Semarang

Menghubungkan ke server...
Simpan Gambar:

Berita Terkait

Sulsel Jadi Provinsi Luar Jawa dengan Penyelenggaraan Sekolah Rakyat Terbanyak
Upacara Sumpah Pemuda di Athirah, Siswa Belajar Kepemimpinan dan Tanggung Jawab
Menelusuri Jejak Lintas Laut, Alumni FIB Unhas Bedah Hubungan Bugis Makassar–Melayu Pahang
Pimpin Upacara Hari Santri 2026, Munafri: Santri Punya Peran Strategis Bangun Negeri
Semarak Hari Santri 2026, Siswa MA YMPI Rappang Tuangkan Kreativitas Lewat Mading
Santri MAN 2 Parepare Gelar Lomba Pidato dan Cerdas Cermat Fikih, Semarakkan Hari Santri Nasional 2026
Cegah Tawuran Anak Muda, Disdik Makassar Berikan Beasiswa untuk Siswa Lanjut Sekolah
BPK Bongkar Rp2,7 Miliar KIP-Kuliah Disalurkan kepada 320 Mahasiswa yang Telah Meninggal
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:13 WITA

Sulsel Jadi Provinsi Luar Jawa dengan Penyelenggaraan Sekolah Rakyat Terbanyak

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:03 WITA

Upacara Sumpah Pemuda di Athirah, Siswa Belajar Kepemimpinan dan Tanggung Jawab

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:31 WITA

Menelusuri Jejak Lintas Laut, Alumni FIB Unhas Bedah Hubungan Bugis Makassar–Melayu Pahang

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:00 WITA

Pimpin Upacara Hari Santri 2026, Munafri: Santri Punya Peran Strategis Bangun Negeri

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:29 WITA

Semarak Hari Santri 2026, Siswa MA YMPI Rappang Tuangkan Kreativitas Lewat Mading

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:51 WITA

Santri MAN 2 Parepare Gelar Lomba Pidato dan Cerdas Cermat Fikih, Semarakkan Hari Santri Nasional 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:00 WITA

Cegah Tawuran Anak Muda, Disdik Makassar Berikan Beasiswa untuk Siswa Lanjut Sekolah

Rabu, 21 Oktober 2026 - 00:23 WITA

BPK Bongkar Rp2,7 Miliar KIP-Kuliah Disalurkan kepada 320 Mahasiswa yang Telah Meninggal

Berita Terbaru

Peristiwa

Polisi Hadir, Ancaman Lalu Lintas Pelajar Diantisipasi

Senin, 2 Nov 2026 - 11:16 WITA